Dalam rangka persiapan dan pelaksanaan layanan angkutan Lebaran Tahun 2026, Badan Kebijakan Transportasi melaksanakan survei daring pada periode 15–30 Januari 2026 guna mengidentifikasi preferensi serta mengukur persepsi masyarakat yang berencana melakukan perjalanan selama masa Lebaran. Pelaksanaan survei tersebut dilakukan melalui kerja sama dengan Badan Pusat Statistik (BPS) dan Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemenkomdigi). Berdasarkan hasil survei, diprakirakan sebanyak 143,92 juta orang atau 50,60% masyarakat Indonesia berencana melakukan perjalanan ke luar kota pada periode Lebaran 2026, sementara sebanyak 140,52 juta orang atau 49,40% masyarakat tidak merencanakan perjalanan. Secara khusus di wilayah Jabodetabek, tercatat sebanyak 22,13 juta orang atau 68,54% responden berencana melakukan perjalanan ke luar kota pada masa Lebaran 2026. Dibandingkan dengan tahun sebelumnya, prakiraan pergerakan masyarakat pada Lebaran 2026 sebesar 143,91 juta orang (50,60%) menunjukkan penurunan sekitar 1,75% dibandingkan hasil survei Lebaran 2025 yang mencapai 146,48 juta orang (52%). Penurunan tersebut mengindikasikan adanya perubahan kecenderungan mobilitas masyarakat, meskipun secara umum tingkat pergerakan masih berada pada kategori tinggi. Berdasarkan daerah asal perjalanan, lima provinsi dengan potensi pergerakan tertinggi yaitu Jawa Barat sebesar 33,78 juta orang (23,47%), DKI Jakarta sebesar 21,99 juta orang (15,28%), Jawa Timur sebesar 16,91 juta orang (11,75%), Jawa Tengah sebesar 14,48 juta orang (10,06%), dan Banten sebesar 11,22 juta orang (7,80%). Secara lebih rinci pada tingkat kabupaten/kota, Kota Jakarta Timur, Kabupaten Bogor, Kabupaten Bekasi, Kota Jakarta Selatan, dan Kota Jakarta Barat menjadi lima wilayah asal pergerakan tertinggi. Angka ini berkorelasi secara langsung dengan tingginya jumlah populasi di daerah-daerah tersebut, yang juga masuk dalam daftar sepuluh besar wilayah dengan penduduk terbanyak di Indonesia. Di sisi lain, Kabupaten Kebumen, Kota Yogyakarta, Kota Surabaya, Kabupaten Banyumas, dan Kota Bandung menduduki posisi lima besar sebagai destinasi favorit. Hal ini menunjukkan bahwa kelima wilayah tersebut merupakan daerah asal atau kampung halaman bagi mayoritas masyarakat perantau. Khusus untuk Kota Yogyakarta, kota ini memiliki peran ganda, yakni sebagai kampung halaman sekaligus sebagai destinasi wisata dengan daya tarik yang tinggi. Dari sisi pilihan moda transportasi, mayoritas masyarakat memilih menggunakan kendaraan pribadi, khususnya mobil melalui jalan tol sebanyak 76,24 juta orang (52,98%). Penggunaan sepeda motor mencapai 24,08 juta orang (16,74%), dengan preferensi jalur perjalanan terbagi pada jalur alternatif selain jalur utama sebesar 8,65 juta orang (35,9%), jalur arteri atau jalan utama lainnya sebesar 6,07 juta orang (25,2%), serta jalur lintas utara Jawa (Pantura) sebesar 5,23 juta orang (21,7%). Sementara itu, penggunaan moda transportasi umum meliputi bus sebanyak 23,34 juta orang (16,22%), angkutan penyeberangan sebesar 6,40 juta orang (4,45%), pesawat udara sebesar 4,98 juta orang (3,46%), kereta api antarkota sebesar 4,79 juta orang (3,33%), serta angkutan laut sebesar 926,12 ribu orang (0,64%). Pelaksanaan survei preferensi perjalanan ini pada dasarnya dilakukan sebagai langkah strategis pemerintah untuk memastikan bahwa kebijakan pada masa Lebaran bersifat prediktif, adaptif, dan tepat sasaran. Tanpa adanya survei dan pijakan data yang kuat, rumusan kebijakan berisiko tidak selaras dengan perilaku maupun kebutuhan nyata masyarakat. Kondisi tersebut tentunya berpotensi memicu kemacetan parah, ketidaksiapan armada transportasi, serta menurunnya tingkat keselamatan dan kenyamanan para pengguna jalan.